22 Februari 2011

Tentang Prosa yang Berubah Menjadi Puisi

Jika mencermati karya-karya prosa berupa cerpen dan novel, yang beberapa tahun belakangan bertebaran di koran-koran dan dunia penerbitan kita, maka akan tampak kecenderungan bahwa genre prosa kita sedang berkembang ke arah genre puisi.

Selama ini, prosa kerap dilawankan dengan puisi. Identifikasi atas prosa adalah bahwa prosa berpretensi untuk menguraikan, menerang-jelaskan, mencairkan, pengalaman-pengalaman manusiawi, sementara puisi justru sebaliknya, yaitu berpretensi untuk memadatkan pengalaman tersebut.


Pretensi-pretensi itu kemudian termanifestasi dalam tataran bentuk, yang ditunjukkan dengan mode manipulasi bahasa. Jika puisi menggunakan bahasa yang kadar kepadatan semantik, sintaksis, pragmatik dan emotifnya kental, maka bahasa prosa adalah bahasa yang lebih cair.

Jika aksioma itu dijadikan titik berangkat, maka kita akan mendapati kecenderungan arah prosa yang bergerak ke arah puisi. Banyak sekali cerpen-cerpen dan novel kita yang menggunakan bahasa-bahasa yang sangat “puitik”. Menggarami Burung Terbang Sitok Srengenge, misalnya, menggunakan komposisi bahasa yang nyaris menyamai manipulasi bahasa yang biasanya kita jumpai dalam puisi. Jauh sebelumnya, Linus Suryadi Ag. sudah bereksperimen dengan Pengakuan Pariyem, yang kemudian disepakati sebagai semacam genre baru—prosa liris.

Cerpen-cerpen Agus Noor, terutama yang terhimpun dalam Rendesvouz, menampakkan kecenderungan pengolahan bahasa yang sukar untuk tidak disebut sebagai bahasa puisi. Dari generasi yang lebih muda, Putut EA pada Dua Tangisan pada Satu Malam juga menunjukkan kemampuan pengolahan bahasa yang tak lazim dijumpai pada cerpen-cerpen biasa.

Para pengarang tersebut memperlakukan bahasa dengan cara yang mirip dengan cara para penulis syair memperlakukan bahasa. Kata-kata dibebani dengan dua tugas, yaitu menjadi medium sekaligus tujuan. Selain mengungkapkan gagasan tentang peristiwa dalam sastra lewat alur, dialog, penokohan, deskripsi latar, kata-kata juga ditugasi untuk menciptakan suasana dan kemungkinan pengucapan tertentu lewat properti-properti linguistik dan emotif yang dipunyai oleh setiap kata. Kata-kata dikombinasi sedemikian rupa sehingga menjadi hiasan literer sekaligus instrumen penceritaan.

Trend ini adalah keniscayaan. Para prosais tersebut jelas bukan penyair yang gagal, melainkan para pengembara bahasa yang mau menjelajahi dan memetakan terra incognita dalam bahasa, sebagaimana para sastrawan avant-gardis dalam sejarah sastra di negara-negara Barat. Hal ini akan memunculkan dinamika yang kreatif dan sehat dalam jagat kesusasteraan kita karena akan timbul ketegangan antara estetika sastra yang sudah mapan dengan estetika baru yang mereka tawarkan.

Lagipula, trend ini muncul karena hakikat bahasa itu sendiri. Bahasa adalah entitas yang mahakaya. Bahasa terbukti memiliki persediaan kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang melimpah, yang tak habis disadap sejak prosa kita diperbarui oleh Idrus lewat, misalnya, Surabaya, atau AA Navis lewat Robohnya Surau Kami.

Meski begitu, kita tidak perlu kuatir dengan menganggap, misalnya, bahwa prosa kita akan berubah menjadi puisi. Prosa tetap memiliki hukumnya sendiri. Tetap ada karya-karya prosa kita yang “setia” dengan “pakem” prosa untuk menguraikan pengalaman. Jujur Prananto dalam Parmin, atau Ngarto Februana dengan Mudik, misalnya, tetap mengandalkan pengolahan teknik bercerita dan bukannya bahasa-bahasa figuratif dan metafor internal.

Di sisi lain, kecenderungan ini sekaligus menegaskan bahwa ranah sastra adalah ranah kebebasan yang selalu menolak status quo dan tidak pernah senyap. Kita tidak memiliki karya kanon yang tunggal, melainkan beratus-ratus, atau mungkin beribu-ribu, yang menandakan penolakan para aktivis sastra kita terhadap dominasi satu entitas yang berpotensi menjadi tiran.

Penolakan itu tercatat pernah mencapai puncaknya dalam sejarah sastra kita pada era perseteruan Lekra-Manifetso Kebudayaan. Lekra yang berpretensi menjadi otoritas tunggal mendapat perlawanan sengit, yang bahkan menimbulkan akibat-akibat perih di luar ranah sastra.***